Candi Cangkuang merupakan tempat wisata yang pas untuk mengisi liburan bersama keluarga. Kenapa nama tersebut disebut Cangkuang? Karena Candi Cangkuang diambil dari kata "Cangkuang" yang merupakan tanaman sejenis pandan yang banyak tumbuh di sekitar leluhur yang terletak di sebelah candi. Cangkuang dapat dimanfaatkan untuk pembungkus makanan seperti pembungkus gula aren, pembungkus ketupat. Daunnya juga dapat dimanfaatkan sebagai alat rumah tangga, yaitu dibuat tudung saji, dan anyaman tikar.
Candi Cangkuang ditemukan Pertama kali oleh 2 orang tim peneliti asal Indonesia yang bernama Uka Tjandrasasmita dan Haryoso pada tahun 1966. Candi Cangkuang didirikan abad 8 Masehi. Sementara Arif Muhammad datang ke Cangkuang 17M. Konon Candi tersebut dibangun zaman kerajaan pajajaran, namun sebagian mengatakan pada zaman Kerajaan Sunda.
Saat diperjalanan saya menghabiskan waktu sekitar 50 menit hampir 1 jam di perjalanan menuju Candi Cangkuang bersama teman saya Ratu, naik sepeda motor. Perjalanan yang panjang dan melelahkan, tapi semua terbayarkan oleh keindahan alamnya yang sangat indah dikelilingi pepohonan, gunung, dan juga terdapat danau.
Candi Cangkuang merupakan Candi yang terletak di Jalan Leuwigoong, tepatnya di Kampung Pulo, Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Jarak Candi Cangkuang kurang lebih 19 km.
Lokasi ini sangat strategis dan indah karena dikelilingi oleh beberapa pegunungan, seperti gunung Haruman, Gunung Guntur, Gunung Malang, dan Gunung kaledong. Pemandangannya yang bersih dan pohonnya yang sejuk membuat siapa saja yang berkunjung ke Candi Cangkuang pasti merasakan nyaman.
Candi Cangkuang terletak di tengah danau, maka pengunjung harus menyeberangi danau menggunakan rakit. Rakit ini akan mengantarkan menuju pulau, dimana Candi Cangkuang berada. Biaya sewa rakit sekitar Rp.5000, tetapi jika disaat hari biasa atau sepi pengunjung biayanya lebih dari Rp.5000, bahkan bisa Rp.100.000.
“Oh iya, memang mahal jika sepi pengunjung, tapi kalo ramai pengunjung lebih murah,” ucap Ibu Pipih saat diwawancarai di depan mushola Kp.Pulo, Rabu (5/4/2023).
Untuk tiket masuk ke area candi, dikenakan biaya tiket masuk yang berbeda-beda sesuai umur. Selain itu dikenakan biaya parkir bagi yang membawa kendaraan pribadi.
“Untuk tiket masuk anak-anak dikenakan biaya Rp.5000, dewasa Rp.10.000 , wisatawan asing Rp.15.000 ,”ucap Ibu Pipih.
Harga tiket tersebut bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung kebijakan dari pihak pengelola. Jam buka pelayanan wisata candi setiap hari Senin sampai Minggu mulai dari jam 07:30 pagi hingga jam 05:00 sore tapi jika saat bulan ramadhan mulai dari jam 08:00 pagi hingga jam 04:00 sore.
Ibu Pipih merupakan salah satu petugas Candi Cangkuang juga mengatakan ada beberapa peraturan-peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh masyarakat sekitar Candi Cangkuang seperti tidak boleh berternak hewan berkaki empat. Tidak boleh adanya 2 kepala keluarga dalam satu atap rumah. Jika ada salah satu anaknya menikah harus pindah ke rumah yang lain.
Kawasan Taman Desa Wisata Situ Candi Cangkuang memiliki spot selfie yang dapat menjadi objek untuk di unggah ke media sosial. Para pengunjung bisa mengabadikan momen dengan berfoto atau video. Cocok juga untuk Youtuber, Seleb Tiktok atau Selebgram untuk membuat konten.
Candi Cangkuang lokasinya bersebelahan dengan tempat makam penyebar agama Islam yaitu, Embah Dalem Arif Muhammad yang merupakan tokoh muslim di Desa Cangkuang pada abad ke-17.
Kebaikan dan jasa Embah Dalem Arif Muhammad dalam berdakwah memperlihatkan bukti dengan adanya museum benda-benda peninggalan zaman dulu berupa Al Qur'an yang terbuat dari kulit kayu.
Ada beberapa mitos di sekitar daerah Candi Cangkuang. Salah satunya adalah mitos yang mengatakan bahwa jika ada yang memukul gong dari perunggu di kampung pulo, maka akan terjadi puting beliung yang sangat besar.
“Anak dari Embah Dalem Arief Muhammad tidak hidup sampai dewasa, karena pas dia mau di khitan diiringi dengan gamelan gong besar dari perunggu terjadilah malapetaka, makanya disini menjadi larangan adat. Waktu itu juga ada yang memaksa saat pesta air acara Sunda, dia tetap melaksanakan pakai gong padahal sudah di kasih tau larangan disini, tiba-tiba langsung terjadi hujan, terus ambruk dan runtuh. Nah, karena itu jadinya pada percaya,” ucap Ibu Pipih Rabu (5/4/2023).
Buat kalian yang bingung mau liburan kemana berkunjunglah ke Wisata Candi Cangkuang disana selain melihat keindahan alam kalian juga bisa tau sejarah dan juga jangan lupa untuk mengabadikan momen kalian saat berkunjung ke Candi Cangkuang dengan Foto, Video atau menulis.
Mantaf,Lestarikan dan jaga lingkungan nya smoga lebih terjaga
BalasHapusSemoga terus terjaga
BalasHapus